Dalam kelelahan aku duduk di teras rumah dengan surat kabar tergeletak di pangkuanku. Sebenarnya tak ada yang kubaca. Baris-baris kata yang terdedah dalam surat kabar seperti telah aku pahami isinya. Yaitu sesuatu yang membosankan. Maka apa pun yang tertulis, meski dengan pilihan kata yang hebat atau menakutkan aku tetap bergumam, "Ah, biasa." Bahkan ketika aku akan membeli koran itu, aku bisa langsung paham apa isinya. Tapi aku tak pernah berhenti membeli koran. Aku masih berharap ada sesuatu yang bisa aku dapatkan dari setiap koran yang aku baca. Paling tidak aku bisa mencibir, tertawa, kagum, hingga tak peduli.
15/05/05
09/04/04
Pasti
Warung di tikungan tutup. Hanya satu warung kecil yang masih buka, di ujung jalan. Tapi untuk ke sana kami harus melewati kuburan. Bukan masalah, kami harus menuju ke warung ujung jalan itu karena kami berlima. Kami sepakat bahwa kamar kosan di samping kampus tidak lagi memberikan suasana hebat. Pengap karena kepulan asap. Sempit. Dan yang paling utama adalah kami berlima kompak, terserang lapar.
29/11/01
C E R P E N
Sore. Hujan tak hebat. Istriku marah. Anakku mandi hujan, basah. Tak ada yang istimewa di sore ini. Istriku masih marah, karena aku tak pernah sukses menulis cerpen. Cerpenku hanya bisa tertuang dua hingga empat halaman lalu entah tak berkesudahan. Istriku marah bukan lantaran ketidaksuksesanku menulis cerpen, tapi lebih karena aku tidak pernah bisa menghasilkan uang sepeserpun dari menulis cerpen.
Langganan:
Postingan (Atom)
