16/02/14

DIALOG tidak penting antara WEDUS DAN KAMBING

Kambing           “Sampai kapan kamu terus-terusan hidup dalam kemiskinan? Apakah kamu tidak ingin kaya raya seperti yang lain?”
Wedus                “Aku memang miskin dan butuh makan. Tapi aku tak mau menipu siapa pun?”
Kambing            “Wedus, siapa yang menipu siapa? Bukankah tipu-tipu sudah menjadi kebudayaan kita bersama? Santai saja lah. Kau hanya perlu mengikuti apa yang selama ini sudah berlangsung. Kamu bisa tetap berkarya, tapi kamu juga bisa kaya raya.”
Wedus               “Saya tidak melarang saudara, untuk mengambil bagian itu. Tapi jangan ajak aku untuk ikut dalam strategi kekayaan yang demikian itu. Aku sudah cukup bahagia dengan hidup yang begini.”
Kambing            “Hai Wedus Gembel! Kamu ini sudah miskin tapi kok ngeyel. Memangnya kamu hidup sendiri di bumi ini? Bagaimana dengan anak istrimu? Biaya sekolah anak-anakmu. Kamu jangan sok suci lah.”
Wedus               “Tentu aku punya tanggung jawab untuk keluargaku. Tapi aku tak mau menjual harga diri dengan cara-cara busuk. Menjual agama, menjual intelektualitas bodong, atau pun menjual karya demi kepentingan-kepentingan murahan. Dan aku sama sekali sedang tidak sok suci. Aku tak perlu sok suci. Untuk apa sok suci jika aku sendiri belum bisa bersuci.”
Kambing            “Mempertahankan hidup itu lebih mulia daripada kepentingan apapun. Membunuh karena lapar tetap bisa dibela, karena mempertahankan hidup adalah segalanya.”
Wedus               “Ya, mempertahankan hidup memang utama dan mulia. Tapi tak lalu dengan cara menghilangkan kehidupan orang lain. Jika perlu, aku memilih mati agar orang lain tetap hidup.”
Kambing            “Ah, Wedus! Kamu ini sok idealis! Ini sama sekali tidak haram kok. Mendapat bayaran yang setimpal ketika kita membuat sesuatu sebagaimana yang diinginkan orang yang membayar kita. Bukankah sah-sah saja menerima bayaran dari orang yang membayar kita? Apalagi jika bayaran untuk kita setimpal.”
Wedus               “Apapun istilahnya, aku memang tidak doyan memilih cara hidup demikian. Apakah kamu rela menerima bayaran setinggi langit demi menulis buku tentang kebusukan gurumu? Kebusukan orangtuamu? Atau kebaikan dan kemuliaan orang yang telah memperkosa dan membunuh ibumu?”
Kambing            “Ya, ini lain, Bung. Ini sesuatu yang wajar. Apalagi, semua orang melakukan hal yang sama. Menyusun suatu karya demi bayaran yang setimpal lalu melanjutkan hidup sebagaimana biasa.”
Wedus               “Silakan. Itu mungkin tepat buat saudara. Tapi saya tak bisa mengerti dengan cara demikian.”
Kambing            “Bukankah kau telah belajar tauhid? Bukankah Laa maujuda illa Alla? Kalau memang semuanya adalah Diri-Nya, kenapa pusing dengan persoalan bayaran yang datang dari mereka yang punya modal dan siap membayar berapapun untuk karya kita yang mereka inginkan? Bukankah itu artinya Allah Allah juga?”
Wedus               “Benar. Segalanya Allah. Sebagaimana Malaikat dan Iblis, keduanya dari-Nya. Seperti juga kita, Wedus dan Kambing. Kita sama-sama Dari-Nya. Tapi, sampai kapan pun Iblis akan tetap berada pada makomnya. Begitu juga Malaikat. Iblis akan disebut Iblis yang salih selama ia konsisten menguji hamba Tuhan melalui banyak rintangan. Begitu juga malaikat. Ia tetap konsisten memberikan inspirasi kebaikan. Nah, aku tak bisa membayangkan jika Iblis dan Malaikat bertukar fungsi. Justru aku berdiri pada makom yang begini sebagai bagian dari keutuhanNya, sebagaimana engkau memilih jalanmu, juga aku hormati sebagai bagian dari keutuhanNya.”
Kambing            “Kamu terlalu muter-muter. Pokoknya, kalau kamu butuh uang, semua sah. Lakukan saja apa yang selama ini sudah berlangsung. Kau dapat uang, mereka dapat karya, dan masing-masing bahagia.”
Wedus               “Jika kamu memilih jalan yang bureng, lanjutkan yang burengmu itu secara kaffah. Aku sangat mendukung. Jangan mengambil yang bureng tapi kamu masih juga ngumpet di ketiak majlis-majlis suci. Kalau mau ikut yang model iblis, jadilah yang total sebagaimana iblis. Jangan kamu campuri dengan corak malaikat melalui pertobatan dan penyucian diri.”

Kambing            “Ah, dasar Wedus!!!”

03/02/14

Selama Matahari Tetap Setia, Biarlah Aku Tetap Miskin Saja

Ketika petaka datang mengorek luka
mereka teriak menggelar ribuan kata-kata
menelanjangi luka dengan khazanah mantra-mantra
demi membela gagasan, kepentingan dan ide para kuasa

Tapi kini, saat petaka datang mengusung dusta
mereka bungkam seribu kata
padahal merekalah pemilik kata-kata
namun ancaman miskin membuat mereka tak berani bicara

Mungkin mereka bisu melahirkan kata
Karena takut mati ditinggal dunia kata-kata
Mungkin mereka kelu berkata-kata
Karena cangkul mereka, hanya menyusun kata-kata

Aku curiga selama ini mereka palsu melahirkan kata
karena kata-kata mereka hanyalah titipan belaka
lembaran makalah, edisi majalah, sajak, atau lampiran berita
kini semakin sepi menyanyikan peristiwa hakiki dan nyata

Lalu, masihkah mereka mendaku ingin berjuang menuju merdeka?
bila perjuangan mereka tanpa nilai tanpa rasa bangsa
karena mereka tenggalam dalam kucuran modal dan kuasa

Aku bersumpah atas nama apa dan siapa saja!
tak akan pernah mau bersama mereka yang terhina
yang hanya bisa mangap menganga membuka mulut untuk penguasa
lalu tampil di hadapan para pembaca
dengan menyeret catatan kaki dan katanya-katanya
tapi tetap bisu dan bungkam saat dusta sedang meraja

Aku bersumpah atas nama apa dan siapa saja!
selama Matahari tetap setia,
biarlah aku tetap miskin Saja



Abdullah Wong
kapan saja, dimana saja