26/05/10

Ketika Nabi berkata, “Hai Pinky…”

Apa susahnya memuji?

Dalam sirah nabi disebutkan, Rasulullah seringkali memanggil Aisyah dengan panggilan Humaerah. Sebuah panggilan mesra yang dalam bahasa gaul sekarang mungkin kira-kira menjadi, “Hai Pinky…!” Kata humaerah sendiri dalam bahasa Arab berakar pada kata h-m-r yang artinya merah. Kata humaerah kemudian mengikuti wazan tertentu yang dalam khasanah ilmu sharaf disebut tasghir. Dari sini lalu beralih makna menjadi kemerah-merahan. Kaitannya dengan Aisyah, konon karena istri nabi yang muda usia ini memiliki pipi yang ranum kemerah-merahan. Padahal pipi Aisyah itu, blas tidak menggunakan blush on, make up apalagi spooring atau pun balancing. Memangnya Tune Up?

17/05/10

Malam Lalu

Malam itu, kami termangu.

Kami duduk-duduk berdua, bernaung pada langit yang sama, ditiup udara dan rasa dingin yang sama. Meski dingin mengalir dan merambat di sekujur tubuh, tapi kami tak lelah membincang sang kekasih. Ia jauh tapi sangat dekat, Ia dekat tapi bisa dirasa jauh. Tapi bukan itu persoalan kami. Satu hal yang menjadi kegundahan kami adalah bagaimana meladeni segenap rasa yang seringkali datang silih berganti. Setelah sekian hembusan nafas, kami kembali berbincang.

02/05/10

DOA KEPALSUAN??

Sinar matahari mulai masuk ke dalam kamarku melalui celah jendela yang masih tertutup. Kudengar istriku sedang menyapu pelataran. Tapi aku masih bermalas-malasan untuk sekadar bangun dari tempat tidur. Pandanganku menerawang ke atas, menatap langit-langit kamar. Tapi entah mengapa, pagi ini terasa berbeda. Begitu aneh dan terasa asing. Burung yang biasa berteriak di pelataran rumah juga seperti terdengar tidak biasa. Bahkan udara yang kuhirup dan mengalir dalam paru-paruku terasa hambar. Sebenarnya ada apa ini? Apakah ini karena sisa-sisa sakit yang kemarin menimpaku? Rasanya kemarin hanya masuk angin biasa. Atau mungkin karena usiaku yang sudah makin renta? Ah, rasanya aku belum terlalu tua, apalagi untuk membayangkan ke sana. Sebuah kematian. Tidak, kedua anakku masih membutuhkan tenagaku. Setidaknya setelah mereka merampungkan sekolah, aku rela bila dipanggil Sang Pencipta. Entahlah, Tuhan. Rasanya aku begitu yakin, Engkau masih memberiku kesempatan.