03/12/09

Menjadi MANUSIA Penjilat Tuhan

Bukanlah Tuhan bila masih membutuhkan sesuatu.
Apa pun tak akan dibutuhkan oleh Tuhan,
Maka jangan lakukan apa pun terhadap Tuhan.
Kalau pun manusia melakukan sesuatu,
itu bukan untuk Tuhan
tapi untuk diri manusia sendiri.
(Wong Dzolim: Begini Tuhan!; 2003)

Dalam berbagai kesempatan kamu selalu memberikan peringatan bahwa kamu hanya akan menerima manusia yang murni. Manusia murni adalah manusia ikhlas. Ikhlas adalah peleburan antara ada dan ketiadaan. Peleburan antara adanya suatu kerja dan tiadanya harap dalam kerja. Peleburan antara kamu dan manusia. Ikhlas merupakan perbendaharaanmu. Ikhlas adalah kosa kata yang tak bisa diterjemahkan secara definitif. Ihklas hanya bisa dirasa. Sementara yang tahu persis tentang rasa hanyalah kamu.

Bagaimana mungkin seorang manusia akan memiliki ikhlas bila di dalam hatinya masih ada rasa “aku manusia.” Rasa “aku manusia” bukan berarti kesadaran akan dirinya sebagai manusia, tetapi terbuangnya rasa “aku” demi meleburnya rasa kamu.

Hampir apa yang dilakukan manusia adalah kesia-siaan. Sia-sia rasanya aku yang mengaku manusia melakukan segala apa yang kamu perintah dalam segala syari’atmu. Kebaikan yang aku lakukan hanya sekedar suatu kebaikan menurutku, bukan kebaikan yang kamu kehendaki. Kamu tak memberikan gambaran secara jelas dan nyata apa yang dimaksud dengan kebaikan. Karena apa pun kebaikan yang aku lakukan bila tidak ada rasa kamu dalam hatiku maka semuanya adalah dusta.

Aku yang manusia terlalu lama menjilatmu dengan segala perbuatan yang sebenarnya adalah perbuatan dirimu. Tak ada perbuatan tanpa kehendakmu. Termasuk persembahan-persembahan yang aku lakukan secara sadar atau tidak juga dalam kendalimu. Namun percuma rasanya persembahan yang menggunung dihaturkan bila kenyataannya adalah kehendakmu jua. Aku ingin itu muncul karena keharusanku untuk tahu diri terhadap kamu. Kamu yang melakukan aku hanya dilakukan. Kulakukan untukmu sehingga kelakuanku adalah titahmu.

Percuma bila kamu serukan kepadaku balasan ini dan balasan itu sementara itu adalah darimu untukku. Aku tak cukup daya untuk meneguhkan bahwa sebenarnya aku tak mampu melakukan apa pun. Masih ada rasa harap yang tak terkira pada saat kulakukan segala titahmu.

Lucu rasanya aku mengerahkan segala energi dan dayaku demi dapatkan senyum bahagia darimu. Kamu yang menentukan kriteria amal yang akan kamu terima, kamu pula yang menentukan hatiku yang tidak memenuhi kriteria. Bila ini masalahnya, aku yakin bahwa manusia yang tidak tahu persis tentang diri dan kamu adalah penjilat. Pembohong besar.

Bila aku membuat mainan dari tanah liat, hanya aku yang paling tahu seluk beluk mainanku. Begitupun kamu. Hanya kamu saja yang bisa tahu siapa aku, sehingga hanya kamu pula yang paling mampu membimbing agar aku tahu persis siapa diriku. Aku ingin bisa lebih jujur terhadap diriku sendiri yang muaranya jujur kepada kamu.

Aku ingin ketika aku persembahkan sajian-sajian indah kepadamu kamu memberikan sinyal atau tanda untukku. Nyalakkan petir yang menggelegar bila persembahanku tak memenuhi hatimu. Tapi taburkanlah pelangi di cakrawala tatkala aku tulus melakukan sesembahan kepada kamu. Atau aku harus mempersembahkan diriku dengan tak peduli tanda apa pun yang kamu berikan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar