15/06/09

YANG TIDAK PENTING DARI RASULULLAH (1)

[sholat warna-warni, jangan dipercaya]


Membaca dan mencermati pribadi Nabi Muhammad menjadi laku yang tak kunjung usai. Ungkapan bahwa perilaku Rasulullah adalah Quran, memang benar adanya. Dengan bahasa underground bisa dikatakan bahwa kalau ingin melihat wujud Quran dalam bentuk manusia, ya Rasulullah Muhammad SAW. Sepanjang literatur yang kami telusuri, kami banyak mendapati hal-hal tidak penting (katakanlah remeh) dari pribadi yang paling aku cemburui dan aku irii (istilah baru untuk cemburu) itu, Rasulullah SAW.

Dalam Surat Ibrahim ayat 4 disebut, “Kami tidak mengutus seorang rasulpun, melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka. Maka Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki, dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Dia-lah Tuhan Yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana.”

Rasulullah demikian NGEH atau sadar akan hakikat hidup dan kehidupan. Ia peroleh kesadaran (awwarness) Ilahi melalui mukasyafah. Namun demikian, Muhammad tetap menggunakan bahasa kaumnya ketika itu, yaitu bahasa Arab. Ia tidak menggunakan bahasa langit atau bahasa negeri antah berantah seperti Yunani atau pun China. Artinya kalau Muhammad dilahirkan di Jawa, dipastikan ia akan mengungkap atau mengekspresikan kebenarannya dengan bahasa Jawa. Lalu kita bisa melanjutkan bila ia lahir di Tegal, Kebumen, Grobogan, Pengilon, Wijahan, Sumur Panggang, Dukuhmaja, Kalimantan, Papua hingga negeri Kelantan Manohara.

Bahasa hanya soal ekspresi. Toh bahasa dikeluarkan karena ada “rasa” yang mengendap di sirr pribadi manusia. Kalau perut kita keroncongan, maka masing-masing kita akan megatakan, “Isun Kempong pisan kih…” atau “Waduh, enyong ngelih nemen kiye…” atau “Aku sangat lapar…” atau juga “I am Hungry…cie english bro”, atau “Walah…Kencot...Lue”, dan seterusnya. Demikian beragam ekspresi bahasa untuk mengungkap sesuatu yang disebut “lapar”; yaitu kondisi dimana perut belum diisi makanan sehingga terasa melilit dan ……(pilih sesuai bahasa Anda).

Lalu bagaimana aku bisa mengakses Alquran-nya nabi yang berbahasa arab itu sementara aku ini wong hekoritaJ? Wah ini yang menurut saya tidak penting untuk dibahas. Pantas saja, kalau mau jadi ulama, atau kyai, syarat utamanya (bahkan kaya mutlak) adalah harus mahir bahasa Arab. Untuk sampai tingkat advanced dalam bahasa arab ini mesti dimulai dengan belajar Shorof, Nahwu, Mantiq, Bayan, Balaghoh, Badi’….dst. Ini tadi baru yang kaitannya dengan bahasa. Belum lagi mesti dibekali dengan Asbab al-Nuzul (sebab turunnya ayat) hingga sejarah, hadis dan sebagainya. Jadi, jangan coba-coba kutap-kutip ayat atau hadis kalau kagak tahu bahasa Arab. Ampun Jack, modar!

Tapi, bila semua intrument bahasa dan sejarah telah kita kuasai, apakah ada jaminan kita dapat mengetahui “maksud pesan” dari setiap ayat Alquran? Menurut saya, belum tentu. Upaya yang bisa kita lakukan adalah “memahami”. Artinya sosok sekaliber Imam Ja’far, Imam Hanafi, Imam Maliki, Imam Syafi’i, hingga Imam Hambali (tapi dudu Imam sempod) hanyalah pihak-pihak yang berupaya sekuat mungkin untuk memperoleh atau mendapatkan maksud-maksud dari setiap ayat atau hadis yang ada. Upaya keras mereka itulah yang disebut dengan IJTIHAD. Dan orang yang berprofesi brijtihad itu biasa disebut MUJTAHID.

Nah, hasil-hasil dari IJTIHAD itu tak lain tak bukan hanyalah sekedar PENDAPAT. Soal salah dan benar dari hasil perolehan pendapat itu bukan urusan kita. Yang paling tahu mana yang bener mana yang belum bener hanyalah Yang Maha Benar. Toh KEBENARAN adalah milik TUHAN. (AL HAQ MIN AMRI ROBBI, kebenaran adalah urusan Pengeran.) Apalagi Nabi memberi kabar yang cukup melegakan, “Bila ijtihan kita benar, pahalanya dua; kalau salah, satu pahala. (Masih untung banget, salah saja dapat pahala). Tapi kalau saya, kalau ada yang beda sedikit dengan saya maka langsung saya bilang kafir lah, sesatlah…weleh..weleh….Tuhan saja tidak sesadis itu.

So…what?
Artinya, apa yang selama ini saya jalankan dalam seluruh kegiatan ibadah ternyata adalah pendapat si anu, kata si anu, menurut si anu. Tapi Si Anu, kan Kayi besar lho Mas! Palagi Si Anu itu, dia kan Wali yang sudah sampai anu. Wah, masih puenthol pendapat Kayi Anu. Dia itu tidak makan tidak minum selama 40 tahun. Pasti dia lebih cespleng!

Lihat saja misalnya tentang sholat. Kenapa umat Islam di seluruh dunia ini cara sholatnya berbeda-beda. Jangankan antara Sunni dan Syi’ah, di dalam Sunni saja sholatnya sudah macem-macem perbedaannya. Memang, untuk yang berdiri-ruku-duduk-hingga sujud di semua golongan ada. Tapi cara bagaimana mereka takbir, tangan ketika berdiri, jemari tangan ketika ruku, posisi kaki ketika duduk, hingga menengok salam, tak ada yang seragam sama. Tidak percaya? Lihat saja kalau haji ke Tanah Suci. Itu orang macem-macem cara sholatnya, tapi memang sih sama-sama menghadap “kiblat”. Kenapa untuk kasus sholat saja bentukny bisa macem-macem padahal nabinya cuma satu. Apakah ini karena Nabi pernah mencontohkan sholat dengan gaya macem-macem menyesuaikan sahabat mana yang melihat? Rasanya kagak deh. [ini juga pendapat. Apalagi pendapat wong dzolim ini. Sangat tidak boleh dipercaya]. Ataukah karena para sahabat yang kurang oke melihatnya? Atau sahabat sengaja kompak untuk berbeda-beda bercerita kepada sahabat yang lain meskipun sebenarnya mereka sama ketika melihat nabi. [untuk yang ini kayaknya mustahil banget. Masa iya seluruh sahabat bersekongkol untuk membohongi kita?]. Lalu apa dong yang menjadikan beda-beda? Mbuh, aku gak mudeng. Toh semua Imam fikih yang saya sebutkan tadi di atas berbeda-beda gayanya, tapi tidak pernah mempersoalkan.

Tapi yang jelas, ternyata yang berbeda itu hanya pada soal gerakan saja. Sementara untuk soal substansi sholat, adalah satu hal yang tak bisa ditawar. Substansi sholat adalah connecting-nya, shilatun-nya, nyambung-nya, ngehnya bersama Robbi. Bukankah dalam ayat disebutkan, “Dirikan sholat untuk mengingat-Ku..;[aqimissholata li dzikrii…]”. Nah, kita [eh, aku kali ya] lebih banyak ribut pada persoalan gerak-gerik dan tata upacara gerakan sholat, tapi tidak pernah serius untuk membahas apakah sholat ku itu bisa bikin aku “ngeh” Alloh?

Nah, hal yang tidaK penting kali ini….adalah:
JANGAN-JANGAN KETIKA ZAMAN RASUL, PARA SAHABAT MELAKUKAN SHALAT DENGAN CARA DAN GAYA BERAGAM RUPA. TAPI RASUL BIARKAN, KARENA RASUL NGERTI MEREKA SEMUA “SAMPAI’ (WUSHUL) KETIKA SHOLAT.
[please, jangan dipercaya]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar